Asmaul Husna Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu
Asmaul Husna Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu adalah kajian Fiqih Do’a dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 8 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 M.
Kajian Tentang Asmaul Husna Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu
Syaikh Abdur Razzaq hafidzahullah menegaskan bahwa telah shahih sebuah riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka. Hadits yang bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tersebut menyatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu. Barang siapa yang menghitungnya (menguasainya), ia pasti masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Motivasi Pemburu Surga dan Kekeliruan dalam Mengihsha‘
Keutamaan agung berupa jaminan masuk surga bagi orang yang mampu mengihsha‘ (menghitung) nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala seharusnya dapat menggerakkan jiwa setiap muslim untuk bersungguh-sungguh menggapainya. Balasan berupa surga merupakan pemantik semangat yang luar biasa bagi para pemburu akhirat. Hal ini tentu berbeda dengan karakter pemburu dunia yang tidak akan merasa bersemangat ketika mendengar balasan surga, melainkan hanya akan bergerak aktif saat diiming-imingi oleh keuntungan materiil duniawi.
Namun, terdapat prasangka yang salah di tengah sebagian masyarakat mengenai makna mengihsha‘ (menghitung) nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagian orang mengira bahwa aktivitas tersebut hanya sebatas menghitung jumlahnya hingga genap 99, menghafalnya di dalam hati, atau melafadzkannya pada waktu-waktu khusus tertentu. Fenomena melantunkan Asmaul Husna dengan nada atau nyanyian tertentu demi mempermudah hafalan memang marak dilakukan. Walaupun menghafal nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan perbuatan yang dianjurkan, hal tersebut bukanlah tujuan paling agung dari perintah mengihsha‘.
Kekeliruan lain yang ditemui adalah adanya sebagian orang yang menjadikan pembacaan deretan Asmaul Husna sebagai rutinitas dzikir pagi dan petang tanpa didasari oleh pemahaman fiqih yang benar. Praktik mengkhususkan pembacaan seluruh rangkaian Asmaul Husna sebagai rujukan dzikir pagi dan petang ini sama sekali tidak memiliki landasan dalil dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Aktivitas tersebut sering kali mengabaikan pendalaman makna-makna agung yang terkandung di dalam setiap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Para ulama telah memberikan peringatan keras bahwa maksud dari mengihsha‘ nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah sebatas menghitung huruf-hurufnya secara tekstual semata. Proses tersebut wajib diiringi oleh pemahaman maknanya secara mendalam serta pengamalan terhadap segala konsekuensi yang dituntut oleh nama-nama tersebut.
Tujuan utama yang diinginkan dari seorang hamba ketika mempelajari Asmaul Husna adalah agar pengetahuan tersebut mampu menumbuhkan kualitas ibadah yang luar biasa di dalam jiwanya. Setiap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dipahami dengan baik harus diaplikasikan dalam bentuk penghambaan diri secara nyata. Perintah untuk menyertakan nama-nama agung ini di dalam ibadah dan doa telah digariskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Milik Allahlah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu.” (QS. Al-A’raf[7]: 180)
Perintah untuk berdoa dengan menyebut Asmaul Husna mencakup dua dimensi utama, yaitu doa masalah (permohonan) maupun doa ibadah (penghambaan). Abu Umar At-Thalamanki menjelaskan bahwa bagian dari kesempurnaan mengenal nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta sifat-sifat-Nya adalah dengan mengidentifikasi nama dan sifat tersebut serta mendalami seluruh faedah yang terkandung di dalamnya. Kesempurnaan makrifat tersebut juga menuntut seorang hamba untuk memahami hakikat-hakikat yang ditunjukkan oleh setiap nama Allah.
Sebagai contoh, nama Ar-Rahman dipelajari mulai dari bentuk kata (shigat) hingga makna substansialnya. Setelah makna tersebut dipahami, seorang hamba harus berusaha merumuskan bentuk amalan nyata yang dapat lahir dari pemahaman terhadap nama Ar-Rahman tersebut.
Seseorang yang tidak mengetahui hakikat-hakikat maknawi ini dinilai belum mengenal makna nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala secara hakiki. Konsekuensinya, ia juga dinilai belum bisa mengambil faedah secara optimal dari aktivitas berdzikir menggunakan nama-nama Allah. Mengenal Asmaul Husna tidak akan pernah mencapai tingkat kesempurnaan kecuali jika dibarengi dengan pemahaman mendalam terhadap hakikat serta faedah yang dapat dipetik dari setiap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tiga Martabat Mengihsha‘ Asmaul Husna Menurut Ibnu Qayyim
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah merinci bahwa proses mengihsha‘ (menghitung) nama-nama Allah yang husna memiliki tiga tingkatan atau martabat utama. Setiap hamba yang mampu menyempurnakan serta merealisasikan ketiga martabat ini dijanjikan akan memperoleh pahala yang sangat besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
- Martabat Pertama: Menghitung, mengumpulkan, dan mengidentifikasi lafadz-lafadz nama Allah beserta jumlahnya secara tekstual berdasarkan sumber yang valid di dalam Al-Qur’an dan hadits.
- Martabat Kedua: Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memahami makna-makna dan mencerna apa saja indikasi keagungan yang ditunjukkan oleh setiap nama tersebut.
- Martabat Ketiga (Du’aullah biha): Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menyertakan nama-nama tersebut, yang ruang lingkupnya mencakup doa masalah dan doa ibadah.
Penerapan martabat ketiga dari konsep mengihsha‘ (menghitung) mewajibkan seorang hamba untuk memahami klasifikasi doa yang terbagi menjadi dua macam.
Pertama adalah doa masalah, yaitu jenis doa yang bersifat meminta atau memohon suatu hajat secara langsung. Contoh dari doa masalah ini adalah permohonan seorang hamba seperti kalimat, “Ya Allah, berilah hamba rezeki.” Saat memanjatkan doa masalah, seorang muslim disyariatkan untuk memilih dan menggunakan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang relevan dan sesuai dengan jenis kebutuhan yang sedang dimintanya.
Kedua adalah doa ibadah, yaitu aktivitas peribadatan yang mencakup dzikir, shalat, dan amal saleh lainnya. Penerapan doa ibadah di dalam konteks Asmaul Husna dilakukan dengan cara mengamalkan seluruh konsekuensi logis dari setiap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah diketahui.
Apabila seorang hamba mempelajari nama Ar-Rahman yang berarti Dzat Yang Maha Luas Rahmat-Nya, ia harus merenungkan konsekuensi amalan yang bisa dilahirkan dari nama tersebut. Bentuk doa ibadah yang paling utama dari pemahaman nama Ar-Rahman ini adalah mengkondisikan diri dan bersungguh-sungguh di dalam mencari serta menjemput rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui jalan ketaatan.
Pemahaman yang mendalam terhadap nama Allah Ar-Rahman mengharuskan seorang hamba menempuh cara-cara agar dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Langkah kedua yang harus dilakukan adalah berusaha untuk menanamkan sifat kasih sayang (rahmah) di dalam diri kepada sesama makhluk. Landasan etis ini bersumber dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang berkasih sayang akan disayangi oleh Yang Maha Pengasih. Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangi kamu.” (HR. Tirmidzi)
Langkah ketiga dari pemahaman nama Ar-Rahman adalah menumbuhkan rasa harap (raja) yang kuat di dalam jiwa akan luasnya rahmat dan kasih sayang-Nya. Selanjutnya, langkah keempat adalah memunculkan ibadah cinta (mahabbah). Kesadaran bahwa rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala melingkupi segala sesuatu secara otomatis akan memercikkan rasa cinta yang mendalam kepada-Nya. Bentuk-bentuk ini menjadi ibadah yang sangat agung bagi seorang hamba yang mengerti hakikat nama-nama Tuhannya.
Contoh lainnya adalah ketika mendalami nama Allah Al-Kabir (Yang Maha Besar). Keagungan nama ini diresapi dengan cara merenungkan betapa dahsyatnya penciptaan makhluk-makhluk-Nya yang berukuran raksasa di alam semesta. Manifestasi praktis dari pengenalan nama Al-Kabir ini adalah lahirnya rasa takut (khauf) yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Konsekuensi logis dari status Allah Yang Maha Besar adalah Dzat-Nya Maha Kuat dan azab-Nya sangat pedih.
Selain rasa takut, nama Al-Kabir juga melahirkan pengagungan yang total di dalam hati, di mana posisi Allah Subhanahu wa Ta’ala menempati ruang paling agung di dalam hati melebihi segala sesuatu yang ada di dunia. Tindakan mengagungkan Allah lewat lafadz lisan namun mengabaikannya di dalam hati merupakan perbuatan yang sia-sia. Pengucapan kalimat takbir (Allahu Akbar) menuntut keselarasan hati bahwa tidak ada satu pun yang lebih besar di dunia ini selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesadaran terhadap kesucian nama Al-Kabir inilah yang menjadi kunci utama munculnya kekhusyukan yang tinggi saat seorang hamba berdiri bermunajat dan shalat di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adanya redaksi hadits yang menyatakan bahwa Allah memiliki 99 nama sama sekali tidak menunjukkan pembatasan jumlah. Secara kaidah sintaksis bahasa Arab, struktur kalimat di dalam hadits tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh.
Frasa man ahshoha (barang siapa yang menghitungnya) di dalam struktur gramatikal bertindak sebagai sifat atau klausa penjelas (na’at) bagi frasa numerik sebelumnya, yaitu inna lillahi tis’atan wa tis’ina isman (sesungguhnya Allah memiliki 99 nama. Kedudukan frasa tersebut bukan sebagai predikat khobar (khabar mustaqil).
Melalui analisis gramatikal tersebut, makna hadits yang sebenarnya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki 99 nama, yaitu barangsiapa yang mampu menghitungnya dan mengamalkannya dengan baik, maka ia dijamin akan masuk surga. Penjelasan ini mempertegas bahwa keberadaan 99 nama dengan keutamaan jaminan surga tersebut tidak membatasi adanya nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain di luar jumlah itu.
Penggunaan struktur kalimat dalam bahasa Arab sering kali memberikan penekanan pada suatu kekhususan tanpa bermaksud membatasi jumlah secara keseluruhan. Sebagai contoh, dalam percakapan sehari-hari orang Arab biasa mengatakan, “Sesungguhnya aku memiliki 99 dirham yang telah aku siapkan untuk sedekah.” Ungkapan tersebut tidak mengandung makna bahwa orang tersebut hanya memiliki uang sebesar 99 dirham saja, melainkan memberikan penegasan mengenai jumlah nominal yang memang telah dialokasikan khusus untuk kepentingan bersedekah.
Konsep kebahasaan ini berlaku sama pada pemahaman hadits mengenai Asmaul Husna. Pernyataan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki 99 nama yang dijamin masuk surga bagi siapa saja yang mampu menguasainya (mengihsha‘), kalimat tersebut sama sekali tidak menunjukkan bahwa nama Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya terbatas pada angka 99 semata.
Hujjah Hadits Aisyah Mengenai Ketidakbatasan Nama Allah
Eksistensi sunnah dan hadits shahih memberikan penegasan kuat bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak terbatas oleh bilangan angka tertentu. Argumen teologis ini bersumber dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya. Di dalam riwayat tersebut, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan pengalamannya:
فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ لَيْلَةً مِنَ الْفِرَاشِ، فَالْتَمَسْتُهُ، فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ، وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
“Suatu malam aku kehilangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dari tempat tidurku, lalu aku mencari-cari beliau. Kemudian tanganku meraba dua perut kaki beliau yang sedang ditegakkan dalam keadaan sujud di dalam tempat shalat, dan beliau sedang berdoa: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu, Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri’.” (HR. Muslim)
Dari aspek akidah, pengakuan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui kalimat “Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu” menjadi hujah yang konkrit. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa beliau tidak memiliki kapasitas untuk menghitung seluruh pujian bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Mengingat pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berbanding lurus dengan penyebutan nama-nama-Nya yang agung, maka ketidakmampuan menghitung pujian tersebut mengindikasikan bahwa jumlah nama Allah sangat banyak dan tidak terbatas. Apabila seluruh nama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat terbatas dan telah diketahui semuanya oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentu beliau akan mampu merincinya di dalam pujian tersebut.
Bukti dari Hadits Syafaat di Hari Kiamat
Dalil lain yang memperkuat fakta mengenai ketidakbatasan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala tertuang di dalam khazanah hadits tentang syafaat yang panjang. Hadits tersebut mengisahkan tentang kepanikan kaum mukminin pada hari kiamat ketika mereka mencari perlindungan dan bantuan. Proses pencarian syafaat tersebut dimulai dengan mendatangi Nabi Adam, kemudian berlanjut kepada Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, hingga akhirnya bermuara kepada nabi kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Setelah menerima permohonan umat manusia, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pergi menuju area bawah arasy untuk bersujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam fase sujud yang khusyu tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ثُمَّ يَفْتَحُ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ مَحَامِدِهِ وَحُسْنِ الثَّنَاءِ عَلَيْهِ شَيْئًا لَمْ يَفْتَحْهُ عَلَى أَحَدٍ قَبْلِي
“Kemudian Allah membukakan (mengajarkan) kepadaku di antara pujian-pujian dan sanjungan-sanjungan yang baik kepada-Nya yang belum pernah Allah ajarkan kepada seorang pun sebelumku.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernyataan ini memberikan bukti yang sangat terang bahwa terdapat untaian kalimat pujian, sanjungan, serta nama-nama keagungan baru yang baru akan diajarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kelak pada hari kiamat. Berbagai bentuk pujian dan nama tersebut sengaja disimpan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan belum pernah diajarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama beliau hidup di dunia. Fakta mengenai adanya ilmu pujian yang baru diturunkan pada hari kiamat ini menegaskan secara mutlak bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala bersifat tidak terbatas oleh angka.
Klasifikasi Nama Allah dalam Ilmu Ghaib
Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki jumlah yang sangat banyak. Landasan argumentasi ini terdapat di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab musnadnya dan disahihkan oleh Syaikh Albani rahimahullah. Di dalam riwayat tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai doa agung bagi seorang hamba yang sedang didera oleh rasa gelisah (ham) maupun kesedihan (huzn):
مَا أَصَابَ عَبْدًا هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، وَابْنُ عَبْدِكَ، وَابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَحًا
“Tidaklah seorang hamba ditimpa kegelisahan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba laki-laki-Mu, dan anak dari hamba perempuan-Mu. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Hukum-Mu berlaku padaku. Ketentuan-Mu sangat adil pada diriku. Aku memohon kepada-Mu dengan seluruh nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau sembunyikan dalam ilmu gaib di sisi-Mu; agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihanku, dan pelenyap kegelisahanku’, melainkan Allah akan menghilangkan kegelisahan serta kesedihannya, lalu menggantikannya dengan kegembiraan.” (HR. Ahmad)
Redaksi doa tersebut memberikan penegasan konkrit mengenai keberadaan nama-nama yang sengaja disembunyikan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam ilmu gaib di sisi-Nya. Mengenai berapa jumlah pasti dari nama-nama yang dirahasiakan tersebut, maka hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahuinya secara mutlak.
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah memberikan penjelasan mendalam terhadap kandungan makna dari doa tersebut. Di dalam ulasannya, beliau membagi nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi tiga kategori utama:
- Kategori Pertama (Qismun samma bihi nafsah): Nama-nama yang digunakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menamai diri-Nya sendiri, lalu Dia memberitahukannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara para malaikat-Nya atau makhluk lainnya, namun nama-nama tersebut tidak diturunkan di dalam kitab suci-Nya.
- Kategori Kedua (Qismun anzala bihi kitabahu): Nama-nama yang secara resmi diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam kitab suci-Nya agar para hamba dapat mengenal-Nya dengan baik melalui teks wahyu tersebut.
- Kategori Ketiga (Qismun ista’tsara bihi fi ‘ilmi ghaibihi): Nama-nama yang sengaja disimpan dan dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk diri-Nya sendiri di dalam ilmu gaib, sehingga tidak ada satu pun makhluk di alam semesta yang diberitahu mengenai nama-nama tersebut.
Eksistensi ketiga kategori ini memperkuat bukti teologis bahwa jumlah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat banyak serta bersifat tidak terbatas pada bilangan angka tertentu.
Perkara krusial berikutnya yang wajib dipahami dan diingatkan kepada umat Islam adalah mengenai status periwayatan daftar nama-nama tersebut. Faktanya, tidak ditemukan satu pun hadits yang shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebutkan secara rinci deretan atau daftar kata dari 99 nama Allah tersebut secara berurutan.
Daftar nama Allah yang tercantum secara terperinci hingga bilangan 99 di dalam riwayat Sunan Tirmidzi dan Sunan Ibnu Majah memiliki status derajat hadits yang dhaif (lemah) berdasarkan kesepakatan para ulama ahli hadits. Umat Islam wajib meyakini bahwa jumlah nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hakikatnya tidak terbatas.
Prinsip berikutnya yang wajib diyakini adalah bahwa setiap nama Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti mengandung sifat kesempurnaan-Nya. Ini merupakan pondasi keyakinan Ahlussunnah wal Jamaah yang sangat kontras dengan pandangan kaum Mu’tazilah. Kaum Mu’tazilah mengklaim bahwa nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala berdiri sendiri tanpa mengandung sifat sama sekali. Pandangan tersebut dinilai sebagai sebuah bentuk celaan terhadap kesucian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Realitas logika yang sehat menolak pemikiran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki nama Al-Qawi (Yang Maha Kuat) namun tidak memiliki sifat kekuatan, atau memiliki nama Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) namun tidak memiliki sifat kasih sayang.
Prinsip kandungan sifat di dalam setiap nama ini juga menjadi bantahan ilmiah terhadap kaum Asy’ariyah yang membatasi sifat wajib bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya pada 20 sifat saja. Pembatasan tersebut menyisakan konsekuensi logis yang bermasalah. Apabila dari 99 nama yang dianjurkan untuk dikuasai (diihsha’) hanya diserap menjadi 20 sifat wajib, maka terdapat 79 nama Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya yang dianggap kosong dari kandungan sifat.
Metodologi penetapan 20 sifat wajib tersebut tidak memiliki landasan dalil yang bersumber dari Al-Qur’an maupun hadits. Kaum Asy’ariyah tidak akan mampu menghadirkan hujjah untuk mendukung pembatasan tersebut, karena metodologi yang mereka gunakan murni bersandar pada argumen akal (dalil aqli). Ketergantungan yang berlebihan pada rasionalitas yang keliru ini membuat mereka menolak sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurut persepsi akal mereka tidak masuk akal, lalu mengalihkan maknanya melalui metode takwil yang tidak berdasar.
Sebagai contoh, di dalam formulasi 20 sifat wajib tersebut tidak ditemukan sifat ridha. Ketiadaan sifat ridha ini memicu kerancuan pada orientasi ibadah seorang hamba yang sejatinya bertujuan untuk mencari keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kaum Asy’ariyah melakukan takwil terhadap sifat ridha dengan mengartikannya sebagai kehendak (iradah) untuk meridhai, dan menolak menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar memiliki sifat ridha yang sesuai dengan keagungan-Nya.
Pola penolakan tersebut didasari oleh kekhawatiran yang keliru bahwa menetapkan sifat-sifat seperti ridha atau peristiwa di atas arsy akan mengonsekuensikan Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki bentuk fisik atau materi (jisim). Kekeliruan ini terjadi akibat mereka terjebak dalam analogi yang membayangkan hakikat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara setara dengan kapasitas makhluk-Nya.
Metodologi Ahlussunnah dalam Menetapkan Sifat Allah
Pola pikir yang mengabaikan teks wahyu demi memprioritaskan analogi akal tersebut dinilai sebagai bentuk penyimpangan dari kelurusan akidah. Berbeda dengan kelompok-kelompok tersebut, Ahlussunnah wal Jamaah mengambil jalan tengah yang selamat dengan mengimani seluruh nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara kaffah.
Setiap sifat yang diinformasikan oleh wahyu ditetapkan secara mutlak sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala, tanpa melakukan penyerupaan (tasybih), penyamaan (tamtsil), penolakan (ta’thil), maupun pengubahan makna (tahrif). Landasan utama dari metodologi keimanan ini telah digariskan oleh Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura[42]: 11)
Berdasarkan ayat tersebut, karakteristik mendengar dan melihatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala ditetapkan secara hakiki, namun substansi dan hakikatnya sama sekali tidak serupa dengan cara mendengar maupun melihatnya makhluk.
Peristiwa atau bersemayamnya Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas arsy sama sekali tidak serupa dengan peristiwanya makhluk. Pola penalaran ini sejalan dengan sifat penglihatan-Nya yang tidak menyamai penglihatan makhluk.
Berdasarkan kaidah tersebut, sifat tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala ditetapkan secara hakiki namun esensinya mutlak tidak serupa dengan sifat tangan makhluk. Dengan demikian, segala bentuk konsekuensi antropomorfis atau ciri fisik makhluk (lazimul makhluq) wajib ditolak dan tidak boleh disematkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Tuduhan kaum rasionalis ekstrem yang menyatakan bahwa penetapan sifat tangan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berkonsekuensi bahwa Allah memiliki tubuh (jisim) merupakan sebuah kesimpulan keliru yang lahir dari analogi makhluk. Penggunaan istilah jisim itu sendiri sama sekali tidak memiliki landasan dalil, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits.
Apabila kata jisim diartikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki tangan sesuai dengan teks wahyu, maka keimanan terhadap teks tersebut wajib ditetapkan. Namun, jika kata jisim diartikan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki anatomi tubuh yang saling membutuhkan satu sama lain layaknya makhluk hidup, maka Ahlussunnah wal Jamaah berlepas diri dan tidak mengimani konsep tersebut.
BAB : Tingkatan Keutamaan di dalam Asmaul Husna
Pembahasan dilanjutkan pada bab ke-28 yang mengulas tentang perbedaan tingkat keutamaan di antara nama-nama Allah yang terbaik. Nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki derajat keutamaan yang bertingkat-tingkat, di mana terdapat nama yang dikategorikan sebagai nama yang paling agung.
Meskipun penjelasan sebelumnya telah menegaskan bahwa jumlah Asmaul Husna tidak terbatas dan angka 99 tidak merujuk pada pembatasan jumlah, fakta tersebut tidak menghalangi adanya variasi derajat keutamaan di antara nama-nama tersebut.
Eksistensi perbedaan tingkat keutamaan ini menjadi bagian dari aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus menjadi bantahan bagi kelompok yang menafikan konsep tersebut. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa pendapat yang mengklaim sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala berada pada satu tingkatan yang sama dan tidak memiliki perbedaan keutamaan merupakan sebuah pandangan spekulatif yang tidak memiliki landasan dalil sama sekali. Sebagaimana nama dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki variasi dalam hal jenis dan maknanya, maka nama dan sifat tersebut juga memiliki variasi dari aspek nilai keutamaannya. Fakta teologis ini didukung secara penuh oleh petunjuk Al-Qur’an, sunnah, serta ijma’ ulama salaf.
Hujjah Hadits Mengenai Nama Allah yang Paling Agung
Bukti otentik mengenai adanya nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung bersumber dari informasi hadits-hadits shahih. Di antaranya adalah riwayat yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya, serta dihimpun oleh empat penyusun kitab Sunan, yaitu Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, dan Imam Ibnu Majah. Hadits yang bersumber dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ini menceritakan peristiwa saat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendengar seorang laki-laki memanjatkan doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwasanya milik-Mu-lah segala pujian. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau, Engkau Maha Esa tidak ada sekutu bagi-Mu. Engkau Maha Pemberi, Pencipta langit dan bumi, serta Pemilik keagungan dan kemuliaan.” (HR. Abu Dawud)
Mendengar redaksi doa yang dipanjatkan oleh laki-laki tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan konfirmasi spiritual melalui sabdanya:
لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهُ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى
“Sungguh kamu telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang jika seseorang berdoa dengan nama itu pasti Allah akan mengabulkannya, dan jika seseorang meminta dengan nama itu pasti Allah akan memberinya.” (HR. Ahmad)
Pernyataan eksplisit dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menyebut keberadaan “Nama-Nya yang paling agung” menjadi hujjah. Penjelasan ini menegaskan secara ilmiah bahwa di dalam deretan Asmaul Husna, terdapat nama-nama tertentu yang menempati kedudukan paling utama dan memiliki otoritas tertinggi di dalam pengabulan doa.
Derajat keutamaan Asmaul Husna yang bertingkat-tingkat dan berbeda-beda dikonfirmasi melalui variasi redaksi hadits. Di dalam riwayat Imam Abu Dawud, terdapat tambahan teks di mana seorang laki-laki mengucapkan nama Ya Hayyu Ya Qayyum.
Selanjutnya, Imam Ibnu Majah serta Imam Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda mengenai keberadaan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung:
اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ، فِي ثَلَاثِ سُوَرٍ مِنَ الْقُرْآنِ: فِي الْبَقَرَةِ، وَآلِ عِمْرَانَ، وَطٰهٰ
“Nama Allah yang paling agung, yang apabila seseorang berdoa dengan nama tersebut pasti dikabulkan, berada pada tiga surah, yaitu Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan Thaha.” (HR. Ibnu Majah)
Di dalam surah Al-Baqarah, nama tersebut terletak pada ayat kursi:
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Allah, tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
Pada surah Ali ‘Imran, nama agung tersebut berada di bagian awal surah:
الم اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
“Alif lam mim. Allah, tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 1-2)
Bukti mengenai adanya tingkatan keutamaan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini diperkuat oleh riwayat Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dan Imam Tirmidzi dari Asma binti Yazid bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
اسْمُ اللَّهِ الْأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الْآيَتَيْنِ: ﴿وَإِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وَاحِدٌ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ﴾، وَفَاتِحَةِ آلِ عِمْرَانَ: ﴿الم * اللَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ﴾
“Nama Allah yang paling agung terdapat pada dua ayat ini: ‘Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang’ (QS. Al-Baqarah[2]: 163), serta permulaan surah Ali ‘Imran: ‘Alif lam mim. Allah, tidak ada Ilah melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya’ (QS. Ali ‘Imran[3]: 1-2).” (HR. Ahmad)
Penegasan mengenai kemuliaan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung juga terekam dalam riwayat Imam Ahmad, para penyusun kitab Sunan, serta Imam Ibnu Hibban dari sahabat Buraidah. Ia menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendengar seorang laki-laki memanjatkan untaian doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu bahwasanya aku bersaksi bahwa Engkaulah Allah, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau. Engkaulah Al-Ahad yang maha esa, As-Samad yang menjadi tempat bergantungnya seluruh makhluk, yang tidak melahirkan dan tidak dilahirkan, serta tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (HR. Ibnu Hibban)
Mendengar untaian tauhid di dalam doa tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan penegasan:
لَقَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِهِ الْأَعْظَمِ، الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ
“Sungguh orang ini telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung, yang apabila Dia diminta dengan nama itu pasti memberi, dan apabila Dia diseru dengan nama itu pasti mengabulkan.” (HR. Abu Dawud)
Seluruh rangkaian hujah tersebut secara konklusif menunjukkan adanya diferensiasi tingkat keutamaan di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ragam Pendapat Ulama dan Kekeliruan Kaum Sufi
Meskipun eksistensi nama Allah yang paling agung telah disepakati berdasarkan dalil-dalil shahih, spesifikasi mengenai nama manakah yang menyandang predikat paling agung tersebut memicu perbedaan pandangan di kalangan internal ulama. Imam Asy-Syaukani menjelaskan bahwa terjadi silang pendapat di antara para ulama hingga memunculkan sekitar 40 pendapat yang berbeda. Di sisi lain, Imam As-Suyuthi di dalam kitab khusus beliau yang berjudul Al-Munajjam fil Ismil A’zham meringkas perbedaan tersebut dan hanya menyebutkan 20 pendapat saja. Mayoritas dari ragam pendapat tersebut dinilai berstatus lemah karena tidak ditopang oleh hujjah tekstual yang shahih.
Di luar ranah ijtihad para ulama, sebagian kaum sufi atau ahli tasawuf memformulasikan konsep nama Allah yang paling agung tanpa didasari oleh landasan dalil sama sekali. Mereka mengeklaim bahwa kata Hua (Dia) merupakan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung. Atas dasar asumsi mistik tersebut, mereka yang mengklaim telah mencapai tingkatan makrifat tertinggi mengganti kalimat tahlil (Laailaahaillallah) dengan zikir berulang berupa pelafalan kata Hua, Hua, Hua.
Praktik penggantian dzikir syar’i tersebut dinilai menyimpang, sebab klaim bahwa kata Hua merupakan nama Allah yang paling agung sama sekali tidak memiliki hujjah, baik di dalam Al-Qur’an maupun hadits yang shahih.
Download MP3 Kajian Tentang Asmaul Husna Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk ikut membagikan link download kajian “Asmaul Husna Tidak Terbatas pada Jumlah Tertentu” ini ke facebook, twitter dan yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi orang lain.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56347-asmaul-husna-tidak-terbatas-pada-jumlah-tertentu/